Assalam mu alaikum...

Media ini adalah media kita bertemu dan bersilaturahmi dalam dunia akal dan fikiran, dalam dunia nurani yang tak butuh kaidah-kaidah sosial yang sering menyesakkan dada. Disini kita ditantang untuk bicara dengan tulisan dan mendengar dengan mata... rawan distorsi memang, tapi ini lebih baik ketimbang interaksi langsung yang harus dibareng dengan basa-basi, senyum palsu dan tawa kebohongan serta etika-etika normatif palsu lainnya.Media ini akan selalu hadir menjembatani silaturahmi kita dalam format yang lebih aman, jujur, dan minim distorsi. Akan selalu hadir memfasilitasi karya, kreatifitas dan mimpi-mimpi. Akan selalu memancing kita untuk jujur dan tulus menilai tanpa harus berpura-pura dan berbohong, karena disini tidak butuh etika normatif apapun selain etika jurnalisme.

Salam IPMALAY


Sebuah proses pembelajaran tak akan pernah berhenti selama hayat masih dikandung badan...

Sebagai bagian dari proses hidup yang harus penuh warna, proses belajar juga harus selalu dibarengi dengan karya dan kreatifitas yang variatif dan evaluatif...
Disini dituntut kesadaran dan kemauan tinggi untuk mau selalu introspeksi sedalam-dalamnya pada proses yang telah dilalui, pada karakter yang telah terbentuk, pada idealisme yang telah terbangun dan pada mimpi-mimpi yang hendak diwujudkan....

Proses IPMALAY juga tak pernah lepas dari dinamika sosial yang harus mengikuti kaidah alam yang tak mungkin dikesampingkan, harus selalu diwarnai dengan karya, kreatifitas, dan pemaknaan yang tulus, jujur dan manusiawi, tanpa harus menghakimi dan menyalahkan siapapun, tanpa harus memaksakan diri, tanpa harus mengumpat, mencaci dan mencemooh...sebab ketidaksempurnaan adalah juga kaidah alam yang mau tidak mau membutuhkan pemakluman dan pengertian.

Media ini adalah media kita bertemu dan bersilturahmi dalam dunia akal dan fikiran, dalam dunia nurani yang tak butuh kaidah-kaidah sosial yang sering menyesakkan dada. Disini kita ditantang untuk bicara dengan tulisan dan mendengar dengan mata... rawan distorsi memang, tapi ini lebih baik ketimbang interaksi langsung yang harus dibareng dengan basa-basi, senyum palsu dan tawa kebohongan serta etika-etika normatif palsu lainnya.

Media ini akan selalu hadir menjembatani silaturahmi kita dalam format yang lebih aman, jujur, dan minim distorsi. Akan selalu hadir memfasilitasi karya, kreatifitas dan mimpi-mimpi. Akan selalu memancing kita untuk jujur dan tulus menilai tanpa harus berpura-pura dan berbohong, karena disini tidak butuh etika normatif apapun selain etika jurnalisme.

Kamis, 13 Maret 2008

WAJAH IPMALAY 2

WAJAH IPMALAY 2
ADAKAH KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR MEMBACA?
buah fikir seorang sahabat berfikir @ji , feb ‘05

Proses pembelajaran dalam berbagai bentuk dan medianya tidak akan pernah lepas dari aktivitas tersebut dalam judul di atas. Sebagaimana telah tertuang dalam berbagai tulisan dan gagasan baik yang terpublikasikan maupun yang hanya bersifat konvensi dari masyarakat karena imbas dari akulturasi budaya, membaca bukanlah semata-mata hanya merangkai aksara demi aksara yang pada akhirnya mempunyai makna tertentu yang akan sangat berbeda dengan entitas huruf jika entitas tersebut masih berdiri sendiri. Sebelum akhirnya menjadi sebuah pengetahuan yang bernilai bagi manusia.
Dalam perkembangannya, manusia dituntut untuk semakin pandai dalam membaca sejalan dengan perkembangan kejiwaannya. Tanpa adanya dukungan kapasitas membaca yang baik, ketimpangan antara perkembangan kebutuhan manusia yang sangat erat hubungannya dengan perkembangan kejiwaan seseorang akan menjadi permasalahan laten yang mau tidak mau harus dihadapai. Tanpa bermaksud untuk mereduksi gagasan awal tentang aktivitas ini dengan terlalu mempermasalahkan teori-teori yang membangun dan menyertai perkembangan aktivitas ini, kita, sadar atau tidak disadari, masih sering terjebak dalam lubang yang disebabkan pembacaan yang salah. Era otonomi daerah dengan berbagai isu-isu ‘strategis’nya sebagai wujud perkembangan dalam aspek pengelolaan dan pelaksanaan kebijakan daerah, perkembangan peradaban manusia melalui berbagai ekstensinya seperti teknologi informasi dengan komputer, internet, mobilephone, fashion, dan berbagai karakteristik yang menjadi parameter dan sekaligus sebagai indikator perkembangan peradaban, telah banyak disalahartikan oleh para ‘muda’harapan bangsa kita. Kesan yang muncul dan diterima oleh masyarakat yang lain justru kontradiktif dari niatan awal yang menjadi pemicu munculnya berbagai perkembangan tersebut. Tidak tepat kiranya ketika kemunculan fenomena-fenomena tersebut tidak diartikan sebagai perkembangan. Namun akan sangat ironis jika dengan munculnya berbagai gagasan baru tersebut tidak ditindaklanjuti dengan arah gagasan yang tepat dan strategis.
Telah cukup terpahamkan bagi kita bahwa ilmu bukanlah sesuatu yang given. Dan, kalaupun hal tersebut kita artikan secara terbalik, tidak akan mempengaruhi kemurnian dan kemuliaan proses menuju ilmu itu. Bukan semata tentang ilmu itu sendiri. Penanganan konflik atau manajemen konflik, manajemen perubahan, adalah beberapa ‘ilmu’ baru bagi beberapa kalangan. Bahkan mungkin mayoritas masyarakat Indonesia. Tidak familiernya masyarakat dengan istilah ini sajapun, bukan berarti masyarakat tidak pernah mengalami dan merasakan fokus kajian dari ilmu tersebut. Justru sebaliknya, masyarakat Indonesia yang kenyang dengan pengalaman konflik dalam berbagai motifnya sebenarnya telah membentuk pemahaman bagi masing-masing tentang hal-hal yang baru tersebut, meskipun batasan-batasan obyektifitas yang senantiasa dibutuhkan bagi terlegitimasinya sebuah ilmu masih belum jelas. Namun sekedar informasi, di UGM, studi tentang hal tersebut bahkan telah sampai pada hal-hal kecil yang akhirnya dibentuk dalam sebuah jurusan bagi mahasiswa pascasarjana. Sebagaimana jurusan tersebut, ada lagi jurusan-jurusan ‘baru’ seperti politik lokal dan penyusunan kebijakan daerah, yang dalam beragam bahasa, kami sendiri sebagai mahasiswa masih berusaha membaca kemunculan fenomena-fenomena baru tersebut sebagai bentuk aktualitas UGM dalam memberikan jaminan mutu kelulusan mahasiswanya. Tapi, siapakah orang yang benar-benar dapat memberikan jaminan bagi tercapainya tujuan pendidikan yang telah dikupas tuntas, tas, tas, dalam buletin sebelumnya, sekarang maupun dalam berbagai media yang lain yang telah disepakati sebagai sebuah proses (the main idea not the form) ?
Terkait dengan masalah organisasi kedaerahan, maupun aktivitas politik dalam level yang lebih tinggi, beberapa waktu lalu IPMALAY mengalami beberapa konflik di lingkup internal dalam berbagai level pemahaman. Sebenarnya terlalu arogan untuk menggunakan hierarki pemahaman yang akan memunculkan si bodoh dan si pintar, tapi demikianlah adanya, bahwa akibat pembacaaan permasalahan sosial yang tentunya membutuhkan kemampuan membaca yang lebih dari sekedar merangkai aksara yang salah, akan menimbulkan pemahaman yang salah. Tanpa adanya kontrol sosial yang tegas akan berdampak pada penyesatan pemahaman, pembodohan, dan beragam adampak negatif yang lain di masa mendatang. Pada saat sekarang atau dulu, kita senantiasa terjebak pada cara orang ‘menjual’ gagasan bahkan tentang masa depan bukan hanya masa depan si penjual namun juga masa depan orang yang membeli jualannya. Selain konflik yang terkait dengan pemahaman, muncul juga konflik yang lain berkaitan dengan perimbangan (dalam bentuk yang lebih solid) hak dan tanggungjawab. Bukan kewajiban. Efektifitas kegiatan di sela-sela aktivitas akademik di kampus tentu membutuhkan kesiapan pembacaan tentang beragam kecenderungan yang akan muncul dengan ragam karakteristik kepribadian yang harus dapat terfasilitasi demi eksistensi gagasan utama dari kegiatan IPMALAY sendiri. Argumen tentang efektifitas dan komitmen terhadap tujuan perjuangan IPMALAY sendiri masih senantiasa membawa dampak yang dalam banyak cara masih disalah artikan sebagai pemanfaatan bukan pemberdayaan. Lagi, salah membaca!Dengan sekian contoh permasalahan dan ribuan permasalahan yang mungkin akan datang, masih pantaskah kita mempertanyakan : “apa kita tidak terlambat untuk belajar membaca ?” . mungkin anda akan memilih untuk menjawab YA!dan tergilas peradaban akibat sebuah kesalahan dalam ‘MEMBACA’.

0 komentar:

Introducing I-SmiLE

Introducing I-SmiLE

I-SmiLE is the IPMALAY’s Small Islamic Learning Environment. Dengannya, mungkin temen-temen warga IPMALAY bisa lebih merasakan bahwa belajar Islam itu tidak harus selalu dengan bentuk kajian besar di mesjid-mesjid atau berada di kelas berame-rame mendengarkan dosen menyampaikan sebuah materi ke-Islaman di depan kelas. Tapi dengan kita belajar Islam dalam bentuk kelompok- kelompok kecil (baca: ber-Small Islamic Learning Environment), dengan jumlah personil yang sedikit 7-10 orang, yang menjadi salah satu metode dalam rangkaian Kegiatan IPMALAY Basic Training Workshop, yakin dech... temen-temen bakal ketagihan abiz.
Kenapa I-SmILE diharapkan bisa efektif, karena dilakukan oleh teman-teman sendiri, yang selalu rindu akan “nur” cahaNya, saudara sekampung yang berbangsa dan berbahasa (hampir) sama, bisa langsung bersitatap dan lebih mengenali temen-temen, jadinya tetap terjaga silaturahmi kita, tentunya tetap bersandar pada Al-Qur’an n Hadist dunk. Biar lebih cepet tuk bisa akses ke resource on line, maka slalu diusahakan acaranya di area Hotspot, jadi lebih mudah memahami materi-materi ke-Islaman yang didapatkan (ini juga disesuaikan dengan kondisi cuaca, ada atau tidaknya motor yang bisa dipinjam, laptop yang bisa dipinjam, de-el-el lah). Kegiatan ini dikemas dengan konsep diskusi, selain bisa melatih keberanian mengungkapkan pendapat, juga bisa memperoleh pandangan lain berdasarkan pendapat temen sekelompok kita tentang masalah yang sedang didiskusikan. Nah, dengan cara seperti ini, materi yang kita bahas otomatis akan terurai lebih detail dan tergali lebih dalam. Selain diskusi, teman-teman bisa ber'curhat' ria, berbagi pengalaman dengan teman-teman lainnya se bangsa dan tanah air.
Jangan khawatir, teman-teman dapat mengemas I-SmiLE ini dengan hal-hal yang menarik, misalnya dengan jalan-jalan, atau sambil makan snack ringan dan lotisan rame-rame, ngopi, atau skalian sambil chatting, ngirim Testi FS, ngeBlog, de-el-el (pokoknya bisa dibuat fun juga ....lah..)
Yakin dech, dengan begitu temen-temen bisa lebih mengenal dekat temen-temen IPMALAY plus para sesepuh adat (yang baik hati dan tidak sombong) yang akan selalu tampil menyebalkan menjadi 'kakak pendamping' kalian selama mengikuti kegiatan IPMALAY Basic Training Workshop. Dengan begitu, kan bisa menambah saudara.

What next's...?
IPMALAY Basic Training Workshop with I-SmILE harapannya tidak hanya bisa menjadi sebuah kegiatan efektif tapi juga poduktif. Temen-temen sudah akan merasakan dong bahwa sebagai seorang mahasiswa (yang jelas berbeda kulturnya dengan masa-masa di sekolah dulu... apalagi mahasiswa Jogja, jangan cuma punya nilai plus dalam segi akademis dan intelektualnya, tapi diharapkan tetap sip dari segi akhlak alias perilakunya juga.

Truss apa hubungannya IPMALAY Basic Training Workshop wih I-SmILE?

Begini, temen-temen pasti sepakat bahwa pembentukan pola fikir maupun perilaku alias akhlak yang baik itu adalah berdasarkan pada sebuah pemahaman yang baik pula terhadap agama. Dan ini tidak bisa berjalan instan dan dilakukan hanya dengan 'bersendiri' saja, melainkan butuh banget teman untuk senantiasa diajak sharring tentang masalah-masalah agama, juga sebagai orang yang akan senantiasa saling mengontrol aplikasinya sebagai wujud kefahaman kita itu jalan atau tidak?
And then....biar pemahaman kita terhadap Islam sebagai agama kita tercinta benar-benar mendalam dan bisa menyeluruh (termasuk sisi akhlak and kepribadian kita), so...perlu cara efektif untuknya. Naah... I-SmILE ini diharapkan banget bisa menjadi salah satu bentuk metode pembelajaran Islam yang cukup efektif untuk mencapai tujuan tersebut. Bangga nggak seeh.. udah cerdas, pinter, kritis, prestasinya oke, akhlaknya TOP BeGeTe lagi !!???
Ok... semoga kita sudah satu frekuensi tentang apa sih I-SmILE itu. Yang pasti kita sudah sama-sama tahu bahwa sebagai seorang muslim itu tidak ada tawar-menawar lagi.... musti, harus, kudu, wajib....menuntut ilmu meski sampai ke negeri Cina umpamanya. Dan dengan mengikuti SmILE-I (kebalik yach?) sebagai salah satu bentuk mencari ilmu, InsyaAllah, kita sedang berproses untuk memenuhi kewajiban kita sebagai seorang muslim. Coz, jangan salah... dalam kegiatan I-SmILE itu kita tidak melulu belajar dan mendapat materi ke-Islaman lho. Temen-temen juga akan mendapat ilmu terkait bidang akademis yang sedang temen-temen tempuh. So, sambil menyelam minum air neeh ceritanya, soale selain temen-temen bisa memahami disiplin ilmu temen-temen dengan mantap di bangku kuliah, temen-temen juga bisa menarik benang merah dengan tinjauannya dari sudut agama kita itu seperti apa sih? Subhanallah, semoga Allah senantiasa memberi kita kemudahan bagi kita dalam menuntut ilmu di dunia sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat. Amiin.
So, temen-temen bersiap-siaplah untuk segera ber I-SmILE ria with I-SmILE ini. Jangan salah, ini bagian dari berlomba dalam kebaikan, namanya juga mencari ilmu di dunia untuk bekal di akhirat (tul gak sih?)
Masih ada yang bingung ato belum kenal??...ato udah nggak sabar untuk segera gabung IPMALAY Basic Training Workshop wih I-SmILE -nya?... Tunggu azza tanggal mainnya. Masih di frekuensi yang sama, bersama I-SmILE. So, masih milih nonton Sinetron??!!

Stay tune with us, every 07.00 PM Monday, Tuesday or Friday (biasanya di Free Hotspot Area berbasis “Kopi Murah”)

Tongkrongin terus review progress kita di http://ipmalay.blogspot.com/ (tempat nongkrong anak Labuhanbatu yang gak doyan nongkrong)



Waspada Online

Koran Indonesia

1 MUSLIM NATION

Agung's sharing