Senin, 14 April 2008 0 komentar


ada gak sich yang bisa liat dengan cara yang agak beda!....
IPMALAY juga butuh cara pandang yang agak beda mungkin ya!
Posted by Picasa

Workshop Libur!!!

Sabtu, 12 April 2008 0 komentar

Maaf... Untuk minggu ini workshop ditiadakan...

Tapi pengajian tetap dilaksanakan... Alhamdulillah...

Semoga juga Workshop tetap dilanjutkan secara pribadi oleh setiap kita di rumah masing-masing dengan tema yang bisa turut mencerdaskan kehidupan Bangsa tentunya...

Agung

Progress Report 30 Maret 2008

0 komentar


Minggu tepatnya tgl 30 Maret 2008, IPMALAY masih diberi karunia serta kesempatan oleh ALLAH SWT untuk melaksanakan kegiatan rutinan yang begitu mulia, yaitu pengajian. Namun pada minggu ini bentuk kajian formatnya berbeda yang biasanya membaca surat yassin pada minggu ini membaca Al-Qur’an surat al baqarah dengan sekaligus memahami isi kandungan tiap ayatnya. Pengajian yang dimoderatori oleh Mbak Rini, Pembacaan doa oleh Tri, dan Kultum pada minggu ini yang disampaikan oleh Mbak Endah.

" Membangun Kepercayaan diri bangsa kita", Itulah tema yang diangkat oleh Mbak Endah untuk menyampaikan tausyi’ahnya pada minggu ini, yang berisi:
Untuk membangun kepercayaan bangsa kita, kita harus memulai merancang dan memulai kiat membangun kepercayaan diri kita dahulu atau setidaknya untuk membangkitkan kepercayaan diri

1. Kita selayaknya menyadari bahwa Allah SWT menciptakan kita dengan perhitungan dan pertimbangan yang maha cermat dan dengan peluang untuk sukses, Firman-nya "Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya (Qs at-tiin [95] : 4)
Potensi sukses sebenarnya telah ada dalam diri kita, kita tidak pernah diciptakan untuk gagal, jika gagal itu pasti bukan kehendak Allah melainkan karena kita tidak serius memompa potensi yang Allah karuniakan. Kita diberikan hak yang sama untuk sukses yaitu sebagai pewaris surge.
2. Belajarlah mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT
Alhamdulillah akal bisa berpikir, mata bisa melihat, telingah bisa mendengar, mulut bisa berkata, dan hati masih punya iman. Cari nikmat Allah yang masih bisa kita syukuri karena setiap kita bersyukur setiap kali pula nikmat kita ditambah.
3. Kita harus mampu membaca potensi diri kita
Segeralah lacak potensi, galih dan eksplorasi potensi sukses yang ada pada diri kita, misalnya dengan bertanya pada ortu, saudara, atau teman dekat kita. Karena bisa jadi sangat banyak potensi yang tidak kita sadari hingga kita tidak berhasil kita galih.
4. Paculah diri kita untuk terus belajar dari orang-orang sukses
Semakin bnyak masukkan tentang bagaimana orang bisa bangkit dari keterpurukkan, maka akan semakin terbakar semangat kita.
5. Carilah lingkungan yang bisa memotivasi kita untuk sukses
Bergaullah dengan orang-orang yang mempunyai potensi untuk bangkit, yang percaya diri, dan sangat menggebu menafkahkan hidupnya untuk mempersembahkan yang terbaik.
6. Setelah potensi diri kita, kita ketahui maka mulailah berani untuk berbuat dan mengurangi resiko
Cobalah mulai bergerak atau melakukannya dengan niat yang baik, dan ikhtiar yang maksimal karena kita mempunyai niat baik ini saja itu sudah menjadi amal.Naik tangga kelima puluh harus diawali dengan tangga satu
Dan orang yang gagal adalah orang yang tidak berani mencoba dan niat yang buruk pula.
7. Bertawakal
Sesudah perhitungan kita matang, selanjutnya tingkatkan amalan yang disukai Allah karena DIA lah satu-satunya yang menggenggam jalan keluar dari kesulitan kita. Semakin kokoh ibadah kita, semakin bagus pula sholat kita, semakin kuat do’a kita semakin mengundang pertolongan Allah.
Dari ketujuh kiat membangun kepercayaan diri yang disampaikan Mbak Endah mudah-mudahan semakin bisa meningkatkan kepercayaan diri bangsa kita.
Jangan panik untuk menghadapi hidup yang serba ruwet dan sempit, anggaplah sebagai ladang dari Allah untuk membangkitkan kemampuan kita. kelapangan kadang tidak menjadikan orang kreatif, tapi justru kesulitan sering menjadikan orang kreatif.

Progress Report 06 April 2008

Jumat, 11 April 2008 0 komentar

Pada hari minggu (06-04-2008) lalu program pengajian rutin IPMALAY dilaksanakan oleh petugas dadakan, ternyata petugas siap untuk melaksanakannya dan akhirnya memang cukup memuaskan.
Acara pada hari itu dibawakan oleh saudara Darwis kemudian do’a oleh saudara Ronal dan dilanjutkan ceramah oleh saudara Irfan. “pada awalnya saya mengira bahwa IPMALAY hanya tempat ngumpul, ngobrol ngelantur oleh anak-anak Labuhanbatu, namun ketika melihat isi didalamnya ternyata banyak hal yang kita perlu pelajari dan dapatkan manfaatnya” ungkap Irfan dalam ceramahnya. Acara yang mengalir dengan akrab diiringi canda seperti biasanya berlanjut dengan hikmat. Irfan juga mengingatkan semua pendengar pada hari itu “ bagaimanapun kondisinya, kita harus bersemangat untuk melakukan proses pendidikian, pembelajaran di IPMALAY karena semua yang kita lakukan adalah untuk kebaikan kita semua” tandasnya.
Dan seperti biasa, setiap hari minggu program IPMALAY dilanjutkan dengan workshop sebagai media sharing knowledge, dan pada hari minggu tersebut menjadi sangat istimewa sebab diisi oleh bang Aping yang telah menjadi trainer dan motivator di lingkungan kerjanya.“ ada hal yang membedakan karakter bangsa Indonesia degan bangsa lain, kalau bangsa Indonesia lebih bersikap siapa tahu dalam menciptakan masa depannya, berbeda dengan bangsa lain yang membangun masa depannya dengan sikap optimis” hal ini yang disampaikan bang Aping dalam prolognya, yang sengaja membawa tema bagaimana cara membangun optimisme.Ternyata dalam mebangun optimisme banyak pondasi-pondasi yang harus disiapkan terlebih dahulu, sebab membangun optimisme butuh perjuangan dan tidak sedikit pula yang akan menghalangi proses pembangunan optimisme tersebut sebab dipengaruhi faktor eksternal dan internal. Diantara faktor internal tersebut adalah lingkungan, budaya, orang tua, sitasi sosial, ekonomi sementara faktor internal antara lain adalah tanggung jawab.
Kemudian bang Aping menyebutkan bahwa pondasi optimisme ada tiga yaitu :
1. Berani mengambil tanggung jawab
Orang yang berani mengambil tanggung jawab akan lebih serius dalammelaksanakan suatu tugas ia akan menjadikan tanggungjawab tersebut sebagai proses pembelajaran tanpa peduli dengan grade resultasi yang diberikan orang pada dirinya yan penting telah berbuat sesuatu yang bermanfaat yang tidak terpikirkan oleh orang lain dan dilaksanakan tanpa instruksi terlebih dahulu, berbeda dengan orang yang hanya bekerja dengan perintah atau instruksi orang lain atau atasannya maka yang menjadi orientasi adalah berhasil atau tidak dan bahkan lebih ekstrim lagi ia akan selalu dibayangi persefsi diferensiasi “kenapa aku yang disuruh bukan orang lain aja”.
2. Positive Mental Attitude
Mempunyai sikap mental yang positif, itulah syarat kedua untuk membangun optimisme, sebab jika seseorang hanya memandang sema yang akan dihadapinya dengan sikap negative maka yang terbayang adalah kehampaan. Semestinya menghadapi apapun yang akan terjadi dengan sikap positif sebab dengan kesungguhan akan diperoleh sesai dengan yang diharapkan.
3. Trust
Sikap percaya pada orang lain harus ditumbuhkembangkan, sebab ternyata 99% keberhasilan kita diperngaruhi oleh orang-orang disekitar kita. Bang Aping juga mengingatkan pada semua peserta untuk selalu melihat cermin diri pribadi, dengan cara selalu bercermin dan bertanya siapa, bagaimana dan apa yang telah dsiperbuat oleh bayangan pada cermintersebut yang sesungguhnya diri kita sendiri.“ Jangan sampai pada suatu saat nanti kita bangun pagi dan kita sadari bahwa umur kita sudah tua dan belum bisa berbuat apa-apa” nasihatnya. Acara yang dimoderatori oleh saudara Amri tersebut dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, sikap antusias yang diperlihatkan para peserta workshop pada sesi tanya jawab semakin membuat acara lebih interaktif dan tentunya lebih menambah pemahaman para peserta.Pada closing moment moderator menyampaikan bahwa optimisme sangat diperlukan untuk melakukan suatu perubahan sebab perubahan tidak mudah untuk dilakukan, mutlak diperlukan kerjasama dan sikap pantang menyerah (Never give up).

…“Progress IPMALAY!” 23 Maret

Senin, 24 Maret 2008 1 komentar

23 Maret 2008

Pengajian Rutin

Alhamdulillah, pengajian minggu ini masih dapat dilangsungkan dengan suasana yang khidmat dan semoga penuh keberkahan. Bertugas sebagai moderator adalah oleh Sdr. Tri Mardiantara. Seperti biasa agenda rutin kali ini berisi pembacaan surat Yasin bersama yang dipimpin oleh Sdr. Rio Hanesya kemudian dilanjutkan kuliah bersama yang diisi oleh Sdri. Laily Purnamasari dengan tema yang masih berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 rabi’ul awal yang lalu.
Dalam ceramahnya, mbak Laily mengajak warga Ipmalay untuk selalu ingat pada sosok Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat islam ke masa yang lebih baik dari masa jahiliyah sebelumnya.
Mbak Laily mengajak semua peserta pengajian untuk bersama merenungkan, jikalau seandainya Nabi Muhammad SAW saat ini datang berkunjung ke rumah kita masing-masing, apa yang akan kita rasakan? Apakah kita merasa senang atau justru akan merasa susah karena merasa terganggu kehidupan kita yang masih jauh dari tuntunan islam.
Muhammad SAW, A Ruby Among Stones

Peace and blessings be upon you! O RasulAllah, mercy upon mankind, teacher and guide!

Peace, one and all… According to most Sunni scholars, the Seal of the Prophets, Muhammad al-Mustafa alaihi al-salatu wa al-salam, was born on 12th Rabi al-Awwal. According to most Shi`a scholars, he alaihi al-salatu wa al-salam was born on 17th Rabi al-Awwal.


IPMALAY Basic Training

Acara Basic Training kali ini masih melanjutkan tema minggu-minggu sebelumnya yaitu menyangkut reposisi peran Ipmalay dalam dinamika masyarakat Labuhanbatu, dalam rangkaian Workshop ini, di tahap awal peserta diajak bersama-sama untuk mengenali kembali Ipmalay sebagai organisasi kekeluargaan, sekaligus sebagai salah satu kekuatan civil society mayarakat Labuhanbatu.
Bertugas sebagai moderator adalah Sdr. Darwis yang mengetengahkan tema pentingnya kita menuntut ilmu untuk kemudian dikembangkan dan diapikasikan demi pengembangan masyarakat Labuhanbatu khususnya, Bangsa Indonesia pada umumnya.
Pada minggu kali ini, masih berkaitan dengan moment peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, peserta workshop diajak membangun diskusi dalam kelompok-kelompok kecil memahami makna yang terkandung dalam
Diskusi yang lebih dingin dari minggu sebelumnya, tidak mengurangi hangatnya silaturahmi yang terasa, ditambah pemahaman-pemahaman baru yang muncul sebagai bagian dari sharing knowledge yang terus dibangun diantara warga Ipmalay. Seperti biasa, konsep berbagi ilmu ini tentu saja juga melatih kemampuan berbicara, mendengar dan menulis serta menganalisa tema-tema yang didiskusikan.

Next Chapter: The Concept of Intellect in Islam

Imagine that the computer screen and all activity on the screen represents the world of material existence. The screen is considered as the horizontal dimension of the computer. A program is running that simulates a small universe complete with simulated beings....

Salam IPMALAY

Kamis, 13 Maret 2008 0 komentar

Salam IPMALAY


Sebuah proses pembelajaran tak akan pernah berhenti selama hayat masih dikandung badan...
Sebagai bagian dari proses hidup yang harus penuh warna, proses belajar juga harus selalu dibarengi dengan karya dan kreatifitas yang variatif dan evaluatif...
Disini dituntut kesadaran dan kemauan tinggi untuk mau selalu introspeksi sedalam-dalamnya pada proses yang telah dilalui, pada karakter yang telah terbentuk, pada idealisme yang telah terbangun dan pada mimpi-mimpi yang hendak diwujudkan....
Proses IPMALAY juga tak pernah lepas dari dinamika sosial yang harus mengikuti kaidah alam yang tak mungkin dikesampingkan, harus selalu diwarnai dengan karya, kreatifitas, dan pemaknaan yang tulus, jujur dan manusiawi, tanpa harus menghakimi dan menyalahkan siapapun, tanpa harus memaksakan diri, tanpa harus mengumpat, mencaci dan mencemooh...sebab ketidaksempurnaan adalah juga kaidah alam yang mau tidak mau membutuhkan pemakluman dan pengertian.
Media ini adalah media kita bertemu dan bersilturahmi dalam dunia akal dan fikiran, dalam dunia nurani yang tak butuh kaidah-kaidah sosial yang sering menyesakkan dada. Disini kita ditantang untuk bicara dengan tulisan dan mendengar dengan mata... rawan distorsi memang, tapi ini lebih baik ketimbang interaksi langsung yang harus dibareng dengan basa-basi, senyum palsu dan tawa kebohongan serta etika-etika normatif palsu lainnya.Media ini akan selalu hadir menjembatani silaturahmi kita dalam format yang lebih aman, jujur, dan minim distorsi. Akan selalu hadir memfasilitasi karya, kreatifitas dan mimpi-mimpi. Akan selalu memancing kita untuk jujur dan tulus menilai tanpa harus berpura-pura dan berbohong, karena disini tidak butuh etika normatif apapun selain etika jurnalisme.

…“Paradigma IPMALAY!”

0 komentar

…“Paradigma IPMALAY!”
Kontribusi Sahabat…
Perubahan-perubahan dalam berbagai aspek kehidupan bangsa ini menghembuskan angin segar bagi semua pihak, demikian pula yang terjadi dengan IPMALAY. Beberapa perkembangan terbaru yang terjadi seputar aktivitas yang dilakukan oleh para konstituen IPMALAY dalam menyikapi berbagai permasalahan baik dalam lingkup internal IPMALAY maupun dalam kaitannya dengan tanggungjawab sosial yang diemban sebagai sebuah organisasi dengan basis ide sosial-kultural ini adalah bentuk respon positif terhadap dinamika perubahan tersebut.
Dalam catatan sejarah yang tertoreh pada perjalanan IPMALAY, aktivitas-aktivitas dalam rangka membangun kerangka organisasi yang solid, mau tidak mau harus diakui telah menyita banyak energi dari masing-masing bagian di dalamnya. Sementara, berbagai perubahan di luar lingkup IPMALAY kadang terkesan menjadi terlalu cepat, menjadi sulit diakselerasi. Adalah sebuah misi yang hampir-hampir sangat “mustahil” diwujudkan. Bergelut dengan segala permasalahan internal, membangun silaturahmi yang menjadi fundamen bagi keberlangsungan nafas IPMALAY sebagai sebuah keluarga, pada saat yang sama juga harus tanggap terhadap tantangan dan kompetisi yang terjadi di berbagai dimensi lainnya.
Tanpa bermaksud untuk tampil arogan, aktivitas-aktivitas yang sering coba diwacanakan dan pada akhirnya digulirkan menjadi sebuah langkah konkrit dari IPMALAY, adalah sebuah pertumbuhan yang patut dibanggakan. Sampai sejauh ini, berbagai upaya tersebut dapat dikategorikan sebagai loncatan baik dalam aspek organisasional, aspek kekeluargaan, maupun efek dari kontribusi IPMALAY dalam kancah dinamika organisasi daerah di Jogja.
Sebagian besar agenda aktivitas strategis yang telah direalisasikan pada periode kepengurusan 2004-2007 dan dilanjutkan pada periode saat ini masih seputar pada aktivitas-aktivitas dalam lingkup internal seperti penyambutan anggota-anggota baru IPMALAY, aktivitas dalam aspek kependidikan dengan memfasilitasi dan mengakomodasi anggota-anggota baru untuk mendapatkan sekolah maupun perguruan tinggi yang sesuai, dan aktivitas pembinaan kesadaran dan mentalitas dengan berbagai program rutin yang telah ada sebelumnya semacam pengajian, diskusi-diskusi terus coba diupayakan guna menjamin kesinambungan dalam aspek pendidikan dan pemberdayaan sebagai tema besar yang menjadi sasaran utama eksistensi Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Labuhanbatu di kota Yogyakarta. Di luar, pada periode sebelumnya telah mulai diwarnai dengan aktivitas membangun kerjasama dengan pihak luar dengan rencana seminar, program-program sosialisasi dan silaturahmi dengan organisasi yang skalanya lebih besar seperti organisasi mahasiswa Sumatera Utara (Bukit Barisan). Bahkan sampai pada skala nasional dengan keterlibatan IPMALAY sebagai kostituen dalam program Pemkot Yogyakarta untuk membentuk sebuah forum pelajar mahasiswa se-Indonesia. Tentunya tidak berlebihan dengan adanya langkah-langkah strategis tersebut berbagai persoalan yang menjadi ‘PR’ bagi IPMALAY diharapkan dapat terselesaikan.Terlepas dari segala perkembangan tersebut, dinamika kehidupan tentu bukanlah sesuatu yang “final”. Hingar bingar panggung politik dengan berbagai dinamika yang menyertainya Berbagai konsep baru tersebut masih membutuhkan pemikiran dan kerja yang lebih keras lagi bagi para pengurus maupun para anggota untuk pada akhirnya mewujudkan cita-cita IPMALAY sendiri, sebagai akumulasi cita-cita masing-masing pihak di dalamnya dan cita-cita nasional bangsa INDONESIA. Akhir kata, perjuangan belum selesai bung!

WAJAH IPMALAY 1

0 komentar

WAJAH IPMALAY 1
Sebuah catatan perjalanan IPMALAY
(Ikatan Pelajar & Mahasiswa Labuhanbatu di Yogyakarta)
“Tends to change” adalah sebuah gejala psikis yang melekat dalam kedirian kita. Dalam tiap tahapan kehidupan, berbagai realitas sosial dan kecenderungan bahwa sejarah akan berulang, adalah “driver” bagi seorang manusia untuk terus terlibat dalam sebuah proses yang setali tiga uang dengan kompleksitas permasalahan yang mengikuti tiap perkembangannya. Hakikat bahwa manusia adalah mahkluk yang tumbuh dari realitas di sekitarnya membawa pada sebuah pemahaman tentang proses yang telah, sedang dan akan dijalani sebagai proses belajar yang tidak pernah berhenti (long life learning). Pertanyaan dalam subjudul di atas adalah sebuah titik awal bagi sebuah proses kontinu dalam upaya sederhana, memandang wajah IPMALAY dulu, dinamika proses IPMALAY sekarang, dan selanjutnya menggambarkan “Guideline” sebagai kerangka acuan bagi kesinambungan IPMALAY di masa yang akan datang.
Dalam beberapa diskusi informal yang secara intensif diselenggarakan oleh IPMALAY di sekretariat IPMALAY, beberapa fakta sejarah terkuak. Dalam nuansa bulan ramadhan dengan berbagai aktivitas persiapan menjelang lebaran, sepertinya tidak menyurutkan semangat-semangat kebersamaan yang tercermin dengan diskusi-diskusi informal tersebut, bahkan para “sesepuh” yang pernah terlibat dengan berbagai problematika IPMALAY dengan kebesaran hati masih menyempatkan untuk bercengkerama dengan adik-adiknya. Dari sinilah beberapa latar belakang munculnya gagasan yang pada akhirnya diwujudkan dengan IPMALAY, dibeberkan.
Berangkat dari sebuah kesadaran akan “tends to change”, akhirnya banyak lulusan terutama lulusan sekolah-sekolah menengah atas di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara yang tersebar dalam beberapa titik konsentrasi, sebut saja Rantauprapat, Aek Nabara, Aek Kanopan, Kotapinang, Perlabian dan sekitarnya (PARIS) dan titik lainnya memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Jogja. Dan bukanlah sebuah keputusan yang tanpa pertimbangan untuk memilih Jogja sebagai labuhan berikutnya. Citra yang terbangun tentang Jogja sebagai kota pendidikan, bukan sebuah fenomena lekang sampai sekarang.
Sampai pada akhirnya, niatan-niatan yang mengantarkan seseorang hingga akhirnya sampai di Jogja yang pada saat itu lebih pada niatan individu, membawa sebuah kecenderungan untuk lebih menguatkan niatan-niatan tersebut menjadi sebuah niatan bersama. Paling tidak dari aspek-aspek primordial,bahwa ada kesamaan yang melekat pada masing-masing individu. Perubahan niatan itu didasari juga oleh sebuah realitas lampau bahwa apa yang kita dapatkan di kampung halaman sangat jauh dari apa yang sesungguhnya diperlukan oleh seorang pelajar, yang mulai membaca adanya ketimpangan-ketimpangan pada sistem social yang ada. Dari proses membandingkan tersebut kemudian muncul kekhawatiran-kekhawatiran yang sangat perlu untuk diakomodasi. Proses “melacak” akhirnya menjadi aktivitas yang mendominasi perkembangan awal IPMALAY.
Pada tahapan selanjutnya, dengan aktivitas “kumpul-kumpul” dan ‘’kongkow-kongkow’’ ini gagasan tentang IPMALAY mulai diwacanakan. Namun, sebagaimana seorang anak kecil yang baru saja membuka mata dan memandangi realitas sosial disekitarnya, kegamangan menjadi harga mati yang melekat pada perkembangan IPMALAY. Ditambah, bobroknya sistem sosial dalam konstruksi sosial masyarakat secara umum pada waktu itu berdampak pada tidak adanya upaya kontrol terhadap entitas ini.Tanpa adanya sebuah visi bersama, komitmen bersama untuk mengembangkan IPMALAY sesuai pada proporsinya sebagai sebuah organisasi, sebuah ikatan keluarga bagi pelajar dan mahasiswa dari Labuhanbatu, proses yang mendominasi pada tahap ini lebih pada proses yang berangkat dari pertimbangan pragmatis saja. Aktivitas yang dilakukan sebatas aktivitas-aktivitas yang diamini oleh sebagian besar partisipan, sebagai aktivitas yang “menyenangkan”.
Tidak adil kiranya meniadakan keberadaan minoritas pada waktu itu yang mungkin memendam gagasan-gagasan tentang arah yang semestinya dilalui oleh IPMALAY. Visi sebuah organisasi sulit untuk dilepaskan dari visi seseorang yang memang benar-benar memiliki cara pandang yang “benar” tentang organisasi, dan tidak cukup sampai di situ saja, seseorang tersebut harus berhadapan dengan dominasi mayoritas yang ternyata tidak cukup beralasan untuk dikategorikan sebagai mayoritas yang “benar”. Dan pada periode ini, visi dari pelaksana (pengurus) IPMALAY sebenarnya cukup solid. Dalam artian, segala aktivitas IPMALAY masih dapat dilaksanakan meskipun secara utuh kurang tepat sasaran. Mengingat aktivitas-aktivitas tersebut masih sebatas memfasilitasi proses anggota-anggota, yang artinya belum berupaya untuk “keluar kandang” dan berinteraksi dengan organisasi-organisasi diluar.
Pada babak berikutnya, kejadian-kejadian yang bersifat nasional dan berbagai realitas sosial sebagai efek bawaan dalam lingkup IPMALAY sendiri, turut berkontribusi bagi munculnya ide-ide kritis dari generasi-generasi berikutnya. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan mulai bergeser pada koridor kesadaran kritis. Beragam upaya dalam rangka memperkuat fondasi organisasional yang tetap bertolak dari nilai kekeluargaan,mulai dirintis. Namun, benturan antara visi yang “jelas” yang dimunculkan orang-orang kritis di IPMALAY yang notabene masih terbilang minor bahkan sampai sekarang, dengan mayoritas “apatis”, tidak selesai.
Dengan beragam kejadian pada periode kepengurusan sebelumnya yang didominasi permasalahan internal yang lebih kepada masalah preferensi dan prioritas, yang berdampak pada sulitnya membangun silaturahmi antar anggota yang semakin bertambah dan kian tersebar di penjuru Jogja, ternyata tidak menyurutkan kebersamaan yang terbangun dalam IPMALAY.
“IPMALAY, masih mau status Quo?”
Sampai pada periode kepengurusan (2004-2007), dengan berbagai tawaran baru dalam upaya untuk tetap mengakomodasikan berbagai preferensi yang silih berganti masuk dalam pertumbuhan IPMALAY sebagai sebuah organisasi, kesulitan klasik tentang sikap dari kebanyakan anggota yang mengarah pada “apatisme” masih terjadi. Mirip dengan situasi dan kondisi yang dihadapi pada periode sebelumnya, terjebak dalam permasalahan partisipasi dan kontribusi baik dalam level pemikiran maupun kerja dari anggota masih rapuh.
Namun, terlepas dari beragam permasalahan klasik tersebut, adalah sebuah kesalahan, bila kemudian kita memilih untuk diam, menerima apa adanya, tanpa mengambil peran dalam sebah proses perubahan. Terkait dengan status Quo IPMALAY yang dipaparkan di awal gagasan, permasalahan klasik dalam lingkup internal organisasi yang bahkan sampai sekarang masih terjadi harus dipandang dan selanjutnya disikapi dengan cara yang baru. Bukan malah mempertahankan tawaran-tawaran lama yang membawa IPMALAY pada status Quo terhadap permasalahan di dalamnya. Terlebih dengan kecenderungan perkembangan dinamika sosial dalam skala nasional maupun global yang membawa sebuah konsekuensi logis berupa kompetisi global yang sangat sulit.
IPMALAY harus segera melakukan re-thinking terkait dengan dilematika internal dan tantangan global di luar wujud nyata dari proses re-thinking tersebut adalah mengembalikan visi awal IPMALAY dan selanjutnya memastikan bahwa masing-masing pihak yang terlibat di dalam maupun pihak-pihak yang terkait di luar IPMALAY memahami bahwa eksistensi IPMALAY adalah sebagai wahana proses “pendidikan” yang menjadi gagasan awal terlahirnya organisasi ini. Bukan semata-mata berkumpul dengan orang-orang yang secara historis kultural memiliki kesamaan. Proses “pendidikan” adalah sebuah proses yang seharusnya dimaknai lebih pada konteks proses yang terjadi didalamnya, bukan bentuknya yang terwujud dengan lembaga-lembaga maupun sistem berikut administrasinya yang telah terlegitimasi sebagai “pendidikan”(the main idea, not the form). Proses yang diharapkan dapat terbangun dari gagasan re-thinking IPMALAY ini tentunya hadirnya sebuah wahana yang efektif bagi kesinambungan proses belajar terutama bagi generasi-generasi muda IPMALAY di periode berikutnya.
Beragam aktivitas yang tengah diupayakan oleh para pengurus periode ini, telah membawa sebuah wacana baru bagi IPMALAY yang sebelumnya terkesan “terkungkung” di batasan-batasan lokal primordial saja. Bukan berarti mengesampingkan tujuan internal yang tetap harus dipertahankan, upaya-upaya strategis tersebut tetap dalam proporsi yang seimbang antara berdialog dengan realitas sosial di luar, dengan tanggungjawab sosial terhadap masyarakat Labuhanbatu, dari mana IPMALAY berangkat. Aktivitas-aktivitas seputar kepulangan putra-putri terbaik Labuhanbatu menjelang lebaran tahun ini, seperti “mudik bareng 2007” yang dikerjakan serentak dengan ikatan-ikatan dari kabupaten lainnya dilingkup Sumatera Utara, termasuk berbagai agenda program yang akan dieksekusi nantinya selepas hari raya, adalah sebuah upaya nyata menjaga keseimbangan proses internal dan keluar.
Tanpa bermaksud menyerah dan berhenti hanya pada tahapan ini saja, masih ada tugas berat IPMALAY yang belum terselesaikan yaitu menyiapkan kerangka proses regenerasi yang selalu menjadi momok dalam tiap organisasi. Lagi-lagi, bercermin pada sejarah pada periode-periode sebelumnya, sikap mental yang “apatis”, dalam bentuk nyata ketidakpedulian yang tidak hanya terjadi pada generasi sebelumnya, akan menjadi sebuah kerja yang sia-sia, jika semangat-semangat yang berhasil terangkat lewat beragam tawaran baru tersebut tidak menjadi sebuah proses yang berkesinambungan, dengan tidak adanya kesadaran kritis dari generasi berikutnya untuk melanjutkan perjuangan yang tidakpernah berhenti ini. Dengan itu semua, apakah IPMALAY masih akan bertahan dengan status Quo? TIDaaKK!!!!

 
IPMALAY © 1988 | Designed by Lingkar Dalam Febri, in collaboration with IPMALAY | Ayo Update Kegiatan IPMALAY Dari Sini, Selamat Membaca